Masuk

Ingat Saya

Radikalisme dan Terorisme di Indonesia

Terorisme di Indonesia berkembang meniru apa yang dilakukan oleh kelompok-kelompok radikal garis keras di luar negeri, khususnya di Negara-Negara Timur Tengah dan Asia lainnya. Ini merupakan pengaruh negatif globalisasi, dunia tanpa batas. Terorisme bukan budaya bangsa Indonesia.

Pertanyaan muncul dibenak kita: kenapa segelintir bangsa Indonesia menjadi “rusak” sehingga kehilangan jati dirinya sebagai suatu bangsa yang pernah muncul dengan nama harum di dunia, antara lain sebagai pemersatu Negara-Negara dunia ke-tiga, penggagas Konfrensi Asia-Afrika, duta perdamaian dan banyak lagi contoh yang lain.

Bahkan sekarang julukan yang tidak enak didengar mampir ditelinga kita, sebagai Negara sarang teroris.

Terorisme di Indonesia muncul di saat yang sama dengan dekade, di mana bangsa ini melupakan Pancasila.  Tidak pernah lagi Pancasila benar-benar dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal para pendiri NKRI sejak awal menyatakan bahwa penyelamat,  pemersatu, dan dasar Negara kita adalah Pancasila.

Bung Karno tegas-tegas berkata: “Bila bangsa Indonesia melupakan Pancasila, tidak melaksanakan dan mengamalkannya maka bangsa ini akan hancur berkeping-keping” juga dinyatakan bahwa barang siapa, atau kelompok manapun yang hendak menentang atau membelokkan Pancasila, niscaya akan binasa.

Tapi itulah yang terjadi sekarang. Pancasila hanya diucapkan dibibir saja. Diajarkan di sekolah-sekolah hanya sebagai suatu pengetahuan. Sebagai sebuah sejarah, bahwa dahulu Bung Karno pernah mendengung-dengungkan Pancasila sebagai dasar Negara.

Para siswa hafal dengan urutan sila-sila dari Pancasila, tetapi tidak paham artinya, filosofinya, dan hakekat manfaatannya bagi kehidupan berbangsa dan bertanah air satu, NKRI.

Pada era Bung Karno sampai era Pak Harto, setiap gejala awal akan adanya gerakan yang mengarah pada penentangan Pancasila segera ditangani dengan serius baik secara preventif maupun represif, tidak dibiarkan tumbuh berkembang seperti sekarang.

Terorisme di Indonesia tumbuh subur karena didukung oleh perilaku sebagian masyarakat yang bertentangan dengan filosofi Pancasila.

Setiap sila telah diselewengkan: Ketuhanan Yang Maha Esa yang memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk memeluk agama menurut keyakinan dan kepercayaannya, telah diracuni oleh pemikiran-pemikiran salah yang hanya mengistimewakan agama tertentu saja.

Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, diabaikan demi kepentingan ego orang atau kelompok tertentu. Kebangsaan Indonesia, kini sudah luntur, tertutup oleh ambisi kedaerahan. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tinggal slogan kosong karena adanya jurang pemisah yang amat dalam antara si-kaya dan si-miskin, yang menimbulkan kecemburuan sosial.

Dan terakhir, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, kini tercabik-cabik ditarik ke sana kemari demi kepentingan politik praktis.

Namun sebagai sebuah bangsa yang besar, kita wajib menyadari bahaya ini. Jika dibiarkan, tak ayal bangsa Indonesia akan terpecah-pecah dan akhirnya musnah. Belum terlambat benar untuk berbenah. Kembali pada kekeramatan Pancasila.

Tentunya Pemerintah-lah yang mempunyai tanggung jawab untuk menyegarkan Pancasila melalui gerakan penghayatan dan pengamalan Pancasila. Pancasila untuk kemakmuran dan kejayaan bangsa Indonesia. Dalam jangka pendek, sangat efektif untuk pencegahan berkembangnya terorisme.

#DamaiDalamSumpahPemuda

Dengan